Berwisata Di Jepang Dengan Menaiki Kereta Mewah

 

Hampir 3 era lalu semenjak Coalbrookdale Company mulai memasang piringan hitam besi pada sepur kusen di 1760. Era itu men catat dini pabrik sepur api modern. Nyata terdapat banyak pergantian semenjak itu. Saat ini sepur api tidak cuma semata- mata moda pemindahan lazim. Beliau dapat menandakan kecanggihan, kecekatan, akurasi durasi, pula keglamoran. Jepang jadi salah satu negeri yang industi sepur apinya sangat maju. Pada 1964, Jepang mulai meluncurkan rute sepur kilat pertamanya, Tokaido Shinkansen. Jalurnya merentang selama 515 km, dari Tokyo sampai Osaka. Terdapat 3 sepur yang melewati rute ini dari Nozomi yang sangat kilat serta mulai bekerja semenjak 1992, ataupun Kodama yang sangat bebas.

Pada mulanya, sepur kilat di rute Tokaido Shinkansen dapat membuat jarak Tokyo- Osaka ataupun kebalikannya dapat ditempuh dalam durasi 4 jam. Satu tahun setelah itu durasinya dapat diperpendek jadi 3 jam 10 menit. Pada 2015, dikala sepur Nozomi telah dapat menggapai kecekatan 285 km per jam, jarak tempuh 2 kota ini jadi 2 jam 22 menit saja.

Pertanyaan kecekatan, sepur maglev Jepang dikala ini menggenggam rekor dikala 2015 dahulu menggapai kecekatan 600 km per jam. Sepur Lo Series itu dapat menempuh jarak 1, 8 km dalam durasi 11 detik saja. Saat ini tidak cuma pertanyaan kecekatan saja, pabrik sepur Jepang dapat memukul dada dengan sebutan terkini yang diterima: sepur sangat elegan di bumi, komplit dengan karcis yang paling mahal. Sebutan ini diterima dikala sepur Shiki- shima dikeluarkan serta langsung menemukan atensi besar. Sepur darmawisata ini pergi dari Stasiun Ueno di Tokyo, mengarah resor di pegunungan Yuzawa. Ekspedisi berjalan 3 hari 2 malam. Selaku bayang- bayang dini, ayo melihat harga tiketnya. Yang sangat ekonomis dihargai 500 ribu yen( kurang lebih 4. 500 dolar) ataupun dekat Rp58 juta per orang buat suite kapasitas 2 orang. Yang sangat mahal merupakan kategori Shiki- Shima Suite( maisonette type), yang harga tiketnya merupakan 700 ribu yen, ataupun dekat Rp120 juta. Sepur ini terdiri dari 10 gerbong, menampung maksimum 34 penumpang. Di bagian depan serta sangat balik terdapat gerbong observatory yang dindingnya dibuat dari cermin. Penumpang yang mau memandang panorama alam dapat langsung dari gerbong itu. Apa yang membuat karcis sepur ini dinilai sedemikian itu mahal? Awal, dari bidang konsep serta bidang dalamnya. Di web sah JR East, diucap kalau rancangan konsep sepur ini mencampurkan estetika Jepang dengan antusias era depan. Pendesain bidang dalamnya sepur ini merupakan Ken Okuyama, yang sering bertugas dengan Ferrari, Porsche, serta Maserati. Di tangannya, dinding sepur dapat seragam kondominium elegan.

Ken mengatakan konsep sepur ini hendak seragam,”… hutan yang hening serta hening.” Kedua, sarana. Sebab ekspedisi sepur ini berjalan sepanjang 3 hari 2 malam, ataupun dapat pula 4 hari 3 malam, hingga gerbongnya didesain komplit dengan kamar tidur. Bila melongok foto- fotonya, nyaman dikatakan jika kamar di sepur ini lebih mendekati kamar penginapan dibanding di dalam gerbong sepur. Gerbong sepur ini pula dilengkapi kamar mandi dengan bilik serta lantai dari kusen, komplit dengan kotatsu, pemanas konvensional Jepang. Tidak hanya itu, penumpang pula ditentukan dengan santapan yang dihidangkan oleh Katsuhiro Nakamura. Namanya wangi selaku ahli masak awal Jepang awal yang menemukan bintang Michelin. Beliau sempat melanglang dari Swiss, Perancis, sampai saat ini kembali ke Jepang. Beliau ditemani oleh Hitoshi Iwasaki yang berprofesi selaku Head Chef sepur Shiki- shima ini. Style masakannya diucap selaku,”… santapan versi Perancis yang dimakan dengan sumpit.” Melukiskan kombinasi antara kuliner Prancis serta Jepang. Shiki- shima dikira selaku sepur sangat elegan di bumi. Simon Cadler dari Independent apalagi menulis kalau sepur ini” mahal di antara sepur mahal yang lain.” Tetapi apakah ini maksudnya penumpang hendak berasumsi jauh buat beli tiketnya? Nyatanya tidak pula. Karcis sepur ini telah habis dipesan sampai Maret 2018. Stasiun tv Jepang NHK berkata nisbah konsumen karcis ini merupakan: 76 orang yang berupaya membeli karcis, cuma 1 yang dapat bisa tiketnya. Shiki- shima, yang berarti Pulau 4 Masa, tidak mengutamakan kecekatan. Bila digeber maksimum, kecepatannya mentok di nilai 112 km per jam. Tetapi, dengan keglamoran semacam itu, siapa yang memerlukan kecekatan? Apa yang dicoba Shiki- shima ini memenuhi apa yang telah dicoba oleh Seven Star in Kyushu, suatu sepur darmawisata di Jepang yang tadinya dikira selaku sepur termewah di Jepang. Terdapat 7 gerbong yang mengangkat maksimum 30 orang. Serupa semacam Shiki- shima, penumpang wajib berbaris buat dapat memperoleh karcis sepur ini. Seluruh penumpang diundi. Harga karcis diawali dari 2. 200 dolar per orang.

Sepur elegan pasti tidak cuma terdapat di Jepang. Mulai sepur The Transcantabrico Gran Lujo yang melewati Spanyol, Maharajas Express di India, Rovos Rail di Afrika, sampai Golden Eagle yang membelah Moskow sampai Vladivostok. Karcis sepur elegan ini menggapai ribuan dolar. Pasti tidak hendak terjangkau oleh orang mayoritas. Sepur api memanglah hadapi banyak alih bentuk. Dari rute sepur dibentuk, para petualang kerap menghasilkan ular besi itu selaku alat berkelana serta memandang bumi. Sepur api menjanjikan ekspedisi yang banyak. Beliau tidak sedini pesawat melambung, serta dapat menampung lebih banyak penumpang. Durasi ekspedisi yang lebih lelet serta jumlah orang yang banyak, itu merupakan pangkal narasi baik untuk para petualang ataupun pengarang ekspedisi. Epik petualangan lewat sepur api yang sangat terkenal pasti saja merupakan The Great Railway Bazaar( 1975). Dalam nyaris seluruh catatan novel ekspedisi terbaik, novel ciptaan Paul Theroux ini senantiasa terdapat. Andaikan tidak terdapat, telah tentu pengarang artikelnya belum sempat baca Theroux. Novel itu menceritakan petualangan Theroux yang menaiki sepur api sepanjang 4 bulan. Pergi dari London pada 1973, melampaui Timur Tengah, India, Asia Tenggara, kemudian kembali lagi dengan sepur api Trans- Siberian. Novel ini jadi kesusastraan klasik dalam alam penyusunan ekspedisi bukan tanpa alibi. Mata Theroux seragam elang yang hampir tidak sempat melupakan apapun. Telinganya mengikuti dengan runcing. Keahlian naratifnya yang pula dibantu oleh keahlian menulis fiksinya, lebih dari lumayan buat membuat suatu babad ekspedisi yang jadi buku bersih para pengelana.

Tidak dapat disangkal, sepur api jadi tulang punggung narasi ekspedisi Theroux. Di dalam sepur itu, Theroux semacam menciptakan bumi dalam muka lebih kecil. Di situ, kejutan banyak terhampar.” Seluruhnya jadi bisa jadi di dalam sepur: santapan lezat, acara arak, kunjungan dari seseorang penjudi, kecoh energi, tidur malam yang lelap, sampai monolog orang asing yang seragam cerpen Rusia,” catat Theroux. Termotivasi oleh Theroux, Ayos Purwoaji melaksanakan ekspedisi hampir seragam: naik sepur api dengan arah terpanjang di Indonesia, Krakatau. Walaupun tidak elegan semacam Shiki- shima, sepur ini menawarkan pengalaman yang amat menarik. Sepur ini pergi dari Stasiun Kediri, Jawa Timur, mengarah Merak, Banten. Jauh arah ini dekat 925 km. Menempuh ekspedisi ini, Ayos melewati 6 provinsi. Sepur menyudahi di 18 stasiun. Lama tempuhnya dekat 19 jam. Di dalam sepur, Ayos pula menciptakan perihal yang membagikan kejutan, tidak jauh berlainan dengan Theroux. Di atas gerbong Krakatau, Ayos berjumpa dengan penumpang yang dahulu sempat nyaris mati dikala hendak jatuh dari sepur, pemburu Pokemon, Stasiun Merak yang nyatanya hening, sampai raibnya orang dagang asongan di sepur.” Berakhir melewati Jawa, pulau padat di mana 60 persen populasi negara berdiam, di mana Republik diproklamasikan serta kewenangan lalu direbutkan, aku nyatanya mengangankan penutupan yang mewah, grandeur, semacam Basilika Santiago de Compostela ataupun Gunung Kailash yang menyongsong pengunjung berakhir menaklukkan jarak yang jauh. Tetapi di hadapan aku yang nampak malah sebaliknya: stasiun kecil yang hening serta diselimuti kemalaman. Hampir dibiarkan,” catat Ayos dalam memo perjalanannya. Theroux, Ayos, atau para pengarang ekspedisi yang memiliki romantisme spesial dengan sepur api, bisa jadi cuma hendak garuk- garuk kepala memandang sepur elegan dengan harga selangit serta sedikit penumpang ini. Keglamoran serta kenyamanan memanglah melenakan. Tetapi terdapat satu perihal yang kurang di situ: kekayaan narasi. Di sepur yang cuma berpenumpang 30 orang pasti kalian tidak hendak dapat berjumpa dengan penjudi, pedagang nanai serta landak, orang dagang asongan, pembohong, perayu, atau orang tekanan pikiran yang bermonolog laiknya cerpen- cerpen Rusia.

 

About the author